Di zaman yang sudah berkembang sangat cepat seperti sekarang. Tenaga manusia kini minim dibutuhkan. Pasalnya tenaga manusia sudah diganti oleh robot-robot yang hampir sempurna menyerupai manusia. Begitupun hal-hal yang dulunya harus dicari susah payah. Di masa kini mudah untuk mendapatkannya. Hal tersebut menyebabkan dunia semakin kompetitif. Artinya, orang yang mampu, cepat berkembang, serta kreatif membuat sesuatu yang barulah yang hanya akan tetap bertahan.
Kabar baiknya, mau apapun jadi bisa dengan cepat didapatkan. Kabar buruknya, manusia jadi manusia masa kini yang sangat pemalas. Karena apapun bisa dilakukan menggunakan smarthphonenya. Ditambah lagi beban orang yang sedikit susah untuk berkembang cepat. Ia akan tetap tertinggal oleh dunia yang semakin maju setiap detiknya. Ia akan tetap stuck di tempat, karena mungkin putus asa bersaing dengan orang-orang yang cepat berkembang dan kreatif.
Masalah itulah yang dialami boleh para kamu yang sudah berumur. Dengan umurnya yang sudah lumayan, Ia harus tetap lagi lagi dan lagi Belajar hal-hal baru. Terutama Belajar mengenai teknologi. Memang hal itu baik. Percaya lah, diantara kebaikan-kebaikan itu, ada banyak kesusahan yang harus ditanggung oleh mereka. Di masa tuanya yang harusnya sudah pensiun dan hidup, beliau tetap harus Belajar.
Hal itu yang penulis lihat setiap harinya di jalan. Betapa miris kehidupan sekarang :( Ya Allah. Zaman yang katanya sudah semakin memudahkan manusia ternyata bisa jadi zaman yang makin makin menyusahkan manusia. Bapak-bapak yang sudah sepuh, harus bersaing di jalanan dengan pada pemuda yang fisiknya lebih kuat, lebih bisa beradaptasi dengan teknologi, dan bisa lebih cepat belajar sesuatu yang baru. Mereka lebih cocok untuk berkompetisi. Namun bukan berkompetisi dengan kakek-kakek tua yang harusnya sudah istirahat, atau bapak-bapak yang jadul yang mencari nafkah untuk Putra putrinya.
Ini terjadi pada sopir taksi, sopir angkot, dan tukang ojek komplek, serta pedagang keliling. Siang itu, hujan turun sangat deras. Mata-mata milik bapak sopir taksi yang sudah berumur itu melihat jalanan dengan pandangan mata yang sangat kosong. Mulutnya mengunyah, tangan kirinya menggenggam bungkusan nasi padang. Penulis tebak, itu adalah sarapan mereka, Ya Allah itu sudah hampir jam 12 siang. Makin kompetitif, makin keras juga kita berusaha. Tak pandang usia. Kalo mau orangnya nggak punya hati, ia rela sikut kanan, sikut kiri.
Pandangan mata yang kosong itu seakan luruh juga harapan mereka, seiring dengan luruhnya air hujan. Mukanya yang kusut, seperti wajah-wajah orang habis terkena hujan. Hal ini sudah menjadi rahasia umum, ketika hujan turun, Jakarta akan semakin macet.
Belum lagi ditambah teknologi yang kian maju. Bapak-bapak tua itu sulit untuk berjalan beriringan dengan sopir-sopir muda. Karena di mana-mana orang sudah menggunakan smartphone untuk mengorder sesuatu, termasuk mengorder taksi. Apa kabar buat yang tidak mengenal smartphone? Ia harus tetap sabar dan ikhtiar serta percaya, bahwa rizki yang Allah beri tak pernah salah alamat. Apalagi bagi mereka yang mencari nafkah untuk anak istrinya di Rumah.
Selain itu harga kebutuhan pokok yang makin hari makin merangkak naik. Uang sekolah makin mahal untuk sekolah, karena setiap orang tua menginginkan sesuatu yang terbaik untuk anaknya. Jika sudah seperti ini apa yang harus mereka lakukan? Mereka sangat membutuhkan itu. Kebijakan ekonomi yang telah dikeluarkan pemerintah jilid berapa yang berpihak pada rakyat kecil seperti mereka? Keadaan yang makin mencekik, makin membuat rakyat miskin bertambah. Jangan pernah mengatakan teknologi maju Dan ekonomi semakin maju ketika makin banyak orang seperti mereka. Dari pagi hingga pagi lagi mereka menunggu penumpang, nan hasio yang diperoleh tidak sesuai yang diinginkan. Belum lagi ke tidak amanan yang makin mengintai mereka.
Harusnya dengan SDM yang makin banyak ini, bisa dimanfaatkan Pemerintah untuk mengelola semua yang negara kita punya secara mandiri. Memang Angka pengangguran akan selalu membayangi, setidaknya hal tersebut akan lebih baik. Ayo dong kabinet kerja, come on. Selamatkan rakyatmu, hey wakil rakyat dipundakmu kami menitipkan amanah. Ingat amanah 6,2juta rakyat.
Bersaing dengan warga negara Indonesia saja pengangguran menumpuk. Tahun ini Masyarakat Ekonomi ASEAN sudah berlaku. Apa yang harus dilakukan? Bisakah kita bersaing? Bisakah kita mengurangi pengangguran Dan meningkatkan derajat kehidupan manusia Indonesia? Semoga kita bisa melewati semuanya. Kita jadi lebih dewasa. Semoga hari ini dan kemaren bisa dijadikan pelajaran untuk menguatkan kita menghadapi hari esok. Dan menjadi negara yang lebih baik.
#IndonesiaBISA!!
Saturday, 2016 January 16
Masyarakat Indonesia menginginkan perubahan untuk jadi lebih baik, dan mampu bersaing dengan masyarakat dunia. Majulah pemuda Indonesia.
Sabtu, 16 Januari 2016
Tekonologi Menguntungkan atau Merugikan?
Rabu, 23 Desember 2015
Belum Melupakan = Tidak Ikhlas (?)
Manusia mana yg tidak sakit ketika dijudge sana sini. Padahal apa yang dilakukan tidak bermaksud seperti apa yang dimaksud yang lain. Memang ketika menghadapi masalah tidak usah berlarut-larut. Tapi gimana Lagi? Hati udah terlanjur sakit. Ketika hati Sudah sakit, kecewa langsung penuh memenuhi hati. Kecewa yang entah seperti apa entahlah, yang hati transferkan ke fikiran pokoknya rasa yang sangat sulit untuk digambarkan. Digambarkan saja sangat sulit, apalagi dimaafkan. Logikanya seperti itu. Bicara dalam konteks saya yang juga manusia. Manusia makhluk paling luar biasa yg Allah ciptakan, makhluk paling sempurna di dunia. Namun, dibalik kesempurnaannya itu manusia mempunya kejelekan yang amat sangat besar, yaitu nafsu. Karena menuruti hal itulah kadang manusia terjebak di lembah kesalahan yang sangat dalam. Kesalahan-kesalahan itu pun kadang tidak sengaja dibuat. Secara tidak sadar manusia menuruti nafsunya. Jika ketika menuruti nafsu tersebut manusia bisa menempatkannya, hal itu alangkah lebih Indah. Karena setiap hal dilakukan sesuai dengan tempatnya, dan dengan konteks masing-masing.
Jujur, secara pribadi, ketika saya melihat orang-orang yang benar-benar nafsu dalam melakukan sesuatu untuk keaenangan dunia sungguh kecewa. Nafsu bukan berarti ia semangat, namun nafsu ingin dipuji sesamanya. Kata Khalifah Ali ibn Thalib "Langit tidak perlu mengatakan ia tinggi, semua orang Sudan tahu." Harusnya manusia sekarang bisa menerapkan kalimat tersebut. Tanpa harus cari muka kesana kemari pasti kecakapan kita dalam sesuatu kalo benar-benar bisa pasti mereka tahu dengan sendirinya. Dan pasti yang butuh akan mencarinya sendiri. Boleh menunjukkan kemampuan, tapi dalam konteks bukan mencari muka.
Ngomong-ngomong ke masalah sakit hati, kecewa, dan berujung belum bisa melupakan kesalahan. Inget kata-kata almarhum Abdurrahman Wahid alias Gusdur pernah mengatakan "Maafkanlah musuh-musuhmu, tapi janganlah melupakan kesalahannya." Kalo menjabarkan kalimat tersebut tujuan dari 'Jangalan melupakan kesalahan', ketika seseorang berbuat yang tidak mengenakan untuk hati kita, tentu juga tidak mengenakan di hati orang lain. Jadi, kesalahan yang dilakukan orang lain pada kita jangan sampai juga kita lakukan kepada orang lain. Perlakukanlah orang seperti kita ingin diperlakukan. So, jangan egois, maunya dibaikin, tapi sama orang lain tak mau baik. Rasulullah tidak pernah mengajarkan ajaran seperti itu. Rasulullah merupakan suri tauladan yang baik, yang senantiasa mengajarkan umatnya akan kebaikan meskipun setelah dihina. Bagaimana damainya dunia ini ketika semua orang mengaktualisasikan apa yang diajarkan Rasulullah. Namun hal itu sungguh tidak mungkin, ada kebaikan pasti beriring dengan kejelekan. Itu sudah pasti, hingga bumi ini kiamat. Tidak ada yang bisa diubah.
Kata-kata lebih tajam dari pedang. Apa yang dikeluarkan lisan tidak bisa diambil lagi. Muncullah undang-undang pencemaran nama baik. Yang digunakan oleh orang-orang yang merasa tidak terima dengan ucapan manusia yang senantiasa mempunyai banyak khilaf. Belajar dari hal ini, berhati-hatilah dalam berucap di manapun dan kapanpun. Karena ada undang-undang yang mengaturnya. Jaga mulut, jaga hati, jaga mata. Jaga, pergunakan sesuai fungsinya, dan pergunakan sebaik mungkin, jangan sampai menyakiti hati manusia lain. Disengaja maupun tidak.
Jadi, saat hati belum bisa melupakan kesalahan, belum tentu siempunya hati belum memaafkan ataupun belum bisa mengikhlaskan. Tapi, merenungkan hal itu terlebih dahulu. Betapa menyakitkan hatinya. Lalu terapkan di kehidupannya agar tidak ia lakukan juga ke orang lain, baik secara sengaja atau tidak sengaja.
Jumat, 18 Desember 2015
Pengalaman Menggunakan Ojek Online
Jujur, saat tahu kemenhub melarang keberadaan Ojek online agak kecewa. Saya tahu, dengan adanya itu ada beberapa yang mungkin merasa dirugikan. Namun, dari itu semua banyak menolong orang-orang yang bekerja di daerah macet. Bisa memecah tengah-tengah kemacetan.
Saya melihat dari pengalaman saya sendiri. Saya masih kuliah, saya punya kerja part time menjadi guru private. Jadi, kerja saya sore hari, setelah pulang kuliah berangkat kira-kira jam 4 sore, saya ngajar jam 5. Semua orang tahu, jam kantor itu berakhir jam 4 sore atau jam 5, jadi kemacetan tidak bisa dihindari. Suatu kali pernah saya dari tempat tinggal saya sengaja naik angkot naik metro mini berangkatnya. Daaaaaaan, ternyata jalanan sudah macet parah. Di tengah-tengah jalan, saya order ojek online, karena memang waktu sudah mepeeeet banget. Kalo diterusin make metro mini, nyampe Rumah Murid aku diperkirain 1 jam 45 menit. Sedangkan jam sudah menunjukkan jam 4 lebih 40. Di sana saya sudah tidak ada pilihan lain, saya memutuskan until menggunakan ojek online. Dan ternyata, yg harusnya ditempuh 1 jam 45 menit, bisa ditempuh selama 16 menit. It's amazing. Lihat di tengah tengah Jakarta yang sudah padat merayap ini masih ada yang bisa bantu kita dari masalah kemacetan Dan keterlambatan kerja.
Keuntungan lain dengan adanya ojek online adalah adanya tariff yang pasti. Coba kalo menggunakan ojek biasa, dekat aja mintanya 10.000. Selain itu, pengguna ojek online tidak harus jalan dan nyamperin tukang ojek. Namun bisa menggunakan smartphone langsung deh abang abang ojek dateng. Nggak harus capek-capek jalan. Jadi, tidak salah lagi jika ojek online jadi pilihan. Belum lagi transportasi masal yang servicenya kurang memadai. Kalo naik transportasi bak ikan yang mau dikirim. Udah gak jelas banget, buat berdiri saja sudah, apalagi buat duduk. Dan masalah main yang masih sulit untuk diatasi adalah, keterlambatan. Ya, karena masalah macet dan sebagainya itu jadwal keterlambatan tidak bisa diprediksi.
Untung saja ada Bapak Presiden yang masih peduli sama kita-kita jadi pemberhentian ojek online tidak jadi terlaksana. Big thank Mr. Presiden 😃