Jumat, 16 Oktober 2015

Islam, Wanita, Kebebasan, dan Keistimewaan

Wanita, Islam, Kebebasan, dan Keistimewaan Pembahasan tentang hal ini mungkin tidak akan pernah usai, apalagi dengan zaman yang semakin carut-marut seperti ini. Kebebasan sudah jadi hal yang sangat lumrah. Namun, kebebasan pada zaman ini kebebasannya sangat miris karena ada beberapa kebebasan yang disalahgunakan alias kebebasan Negatif. FYI guys, buku karya Abdul Halim Abu Syuqqah sudah ada enam jilid, dan itu hanya membahas mengenai kebebasan wanita. Hebat banget yah wanita heheheee... judul bukunya adalah ‘Kebebasan Wanita’. Seperti itulah wanita, sejak zaman jahiliyah sampai zaman teknologi yang berkembang pesat seperti detik ini memang wanita selalu jadi pusat perhatian. Wanita itu subhanallah. Dari rahimnya lahir para mujahid-mujahid yang insyaallah membela agama Allah, agama yang rahmatan lil alamin. Dari ASInya yang mengalir di setiap aliran darah sang anak adalah pahala dan perjuangan. Dari didikannya, tumbuhlah muslim-muslim muda yang memajukan dan mengembangkan Islam sesuai syariat yang sudah diajarkan Rasulullah SAW. Kebebasan Wanita dan kesetaraan gender(?) nampaknya hal ini sangat menarik. Semenjak Islam datang, Islam sangat mengistimewakan wanita. Zaman jahiliyah dulu, wanita sungguh miris keadaannya. Sebelum wanita lahir pun wanita sudah tak diinginkan, katanya wanita itu aib. Ketika ia dilahirkan, wanita dikubur hidup-hidup. Terutama Ibu. Sampai-sampai kata Nabi, Ibu tiga kali lebih tinggi derajatnya dibanding Ayah. Surga di telapak kaki Ibu. Al Ummi madrasatul uula. Wanita itu ratu di rumah, segala yang mengatur urusan rumah tangga itu wanita. Ada beberapa rumah tangga yang kandas karena wanita bekerja siang malam bukan. Wanita (Ibu) itu segala-galanya bagi putra-putrinya. Ada pepatah mengatakan ‘Dibalik lelaki hebat, di sana ada wanita hebat’, lelaki bukan apa-apa jika tanpa wanita. Ayo hargai wanita, jangan mau disetarakan gendernya. Wanita lebih istimewa daripada pria. Ngapain wanita harus berlelah-lelah di luar bekerja. Padahal ada pria yang wajib menafkahinya? Kalo niatnya untuk ngebantu, boleh-boleh saja. Jika wanita yang bekerja karena suaminya kurang beruntung (punya keistimewaan) yang mungkin bisa membuat si pria itu sulit untuk mencari kerja. Dan si wanita yang kerja, ia percaya rejeki suaminya ada pada rejekinya. Dan ia rela, ikhlas menafkahi suaminya itu, surga ada di genggamannya. “Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (bulan ramadhan), menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya. Mak, dikatakan kepadanya, Masuklah engkau ke surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.” (H.R. Ahmad) Wanita dijaga oleh Islam dengan Hijabnya. Hijab untuk wanita itu bukan menjadi alasan keterbatasan. Tapi itu adalah alat untuk menjaga wanita, karena wanita sangat istimewa. Wanita menundukkan pandangannya karena menghindari hal-hal yang tidak halal baginya untuk dilihat. Dengan hijabnya yang mengulur sampai ke dadanya, wanita jadi bebas beraktivitas seperti apa saja. Karena, wanita jadi tidak risih. Islam sangat menjaga dan mengistimewakan wanita. Sejak dulu hingga sekarang dan sampai nanti. Karena Islam adalah agama yang sudah disetting Allah sedemikian rupa untuk zaman model apapun.

Kamis, 15 Oktober 2015

Sinopsis Cerpen 'Luka Yang Indah'

Luka yang Indah –Setiap orang mempunyai cara tersendiri untuk tidak melihat orang yang dicintainya terus menerus terluka– Penderitaan diawali ketika pilihan seorang remaja yang rela meninggalkan keluarga demi menikah dengan seorang pemuda desa yang sangat dicintai. Penderitaannya terus berlanjut hingga hembusan nafas terakhirnya. Kepedihan berlanjut ketika anak semata wayangnya yang sudah sangat diharapkan meninggalkan mereka, kejadian tersebut terjadi saat Timah mengantarkan makanan untuk suaminya –Daman–. Daman....lelaki miskin yang hanya bisa memegang cangkul dan tali kerbau, memilih untuk menyerah dan mengantar nyawa istrinya –Timah– yang telah dinikahinya dengan penuh pengorbanan dan dijalani dengan penuh kesengsaraan ke sisi Tuhan dengan caranya sendiri, yang mungkin menurutnya bisa mengurangi sakit dan kepedihan luka yang harus ditanggung wanitanya itu. Betapapun hebat dan kuatnya seorang laki-laki, ia tidak akan pernah sanggup melihat orang yang dikasihinya bertahan hidup dalam pesakitan. Dan ia lebih memilih untuk menahan lukanya sendiri daripada melihatnya terluka. Kisah tentang perjalanan hidup sebuah rumah tangga yang diawali dengan pengorbanan seorang wanita yang amat sangat namun berakhir tragis digenggaman pasangannya sendiri. Pengorbanan, kepedihan, kesabaran, kebersamaan selama beberapa tahun, namun berujung pada kerelaannya melihat perempuan yang dicintainya mengejang, mengelepar, lalu pergi meninggalkannya untuk selamanya di pagi buta yang diiringi oleh kristal-kristal bening dari sepasang mata Daman.

Contoh Resensi Novel 'Jejak Luka'

Judul : Jejak Luka dan Kisah-kisah Lainnya Pengarang : Azwar Sutan Malaka Penerbit : Mujahid Press dan Nusantara Institute Tahun Terbit : 2014 Tempat Terbit : Bandung ISBN : 978-979-762-248-0 Tebal Buku : xix × 141 Halaman Dimensi : 14,5 cm × 20,5 cm Harga : Rp. 35.000,- Novel karya Azwar Sutan Malaka yang lulusan pascasarjana di Universitas Indonesia Jurusan Ilmu Komunikasi dikhususkan untuk membawa pembaca, supaya melihat dan merasakan kondisi sosial yang terjadi pada manusia kurang beruntung, setidaknya agar peduli atau sebagai pembelajaran. Serta menyadarkan mereka bahwa ada beberapa peraturan adat yang membuat perempuan semakin lemah, menyudutkan dan membuat terkekang. Novel ini adalah novel yang mengupas tuntas tentang seseorang yang bertahan memperjuangkan kehidupannya dan terbagi menjadi tigabelas cerita pendek. Masing-masing cerita mengangkat tentang luka, untuk orang yang pernah membuat luka, orang yang sedang membuat luka, orang yang pernah terluka, ataupun untuk orang yang akan mengukir luka. Dan luka itu pun tak hanya dilakukan oleh musuh, namun juga dilakukan oleh orang-orang yang harusnya menjadi pelindung, yang jadi tempat berkeluh kesah, yang menjadi imam dan contoh, serta oleh orang yang sangat disayangi. Dalam setiap cerita dikisahkan konflik-konflik yang kebanyakan didominasi kelemahan-kelemahan perempuan, dan kelemahan karena kemiskinan. Sebagai pemeran utama dalam cerita tersebut, perempuan dan peran-peran lain digambarkan hanya menjadi pihak yang menderita, teraniaya, tidak memiliki pelindung, tidak mempunyai keberanian untuk membela diri. Keunggulan Buku : Buku ini memiliki keunggulan dari cara penulis mengangkat adat yang mungkin sudah lumrah terjadi di lingkungan para pembaca. Jadi pembaca bisa lebih peka dan sadar. Kelemahan Isi Buku : Pemilihan kata-kata di dalam novel ini mungkin ada beberapa yang terlalu vulgar, ketika membaca novel ini bisa saja pembaca langsung beranggapan semua cerita isinya sama. Dalam buku ini penulis terlalu melemahkan perempuan, sehingga mungkin saya sendiri sebagai pembaca dan juga sebagai perempuan, menganggap kaum pria terlalu kejam, mereka tak punya hati nurani. Saran-saran terhadap buku ini : Agar Pengarang lebih kreatif jangan hanya menggunakan adat minang, padahal di Indonesia mempunyai banyak suku dengan adat istiadatnya masing-masing. Jadi, mungkin bisa lebih berwarna-warni supaya pembaca juga tahu adat dari daerah lain. Kurangi mengulang nama-nama tokoh, supaya pembaca tidak bosan. Penulis jangan hanya mengangkat kelemahan perempuan saja, padahal perempuan mempunyai sisi lain yang bisa kapan saja muncul. Ketika mengetik supaya lebih teliti lagi. Karena banyak typo atau kesalahan ketik (di sampul, di hal 3, 11, 28, 31, 37, 42, 48, 49, 54, 56, 58, 62, 63, 65, 71, 76, 77, 85, 96, 98, dst.) dan ada beberapa kata yang ambigu bahasanya rancu (Hal 1, 29, 99), ataupun yang tumpang tindih (hal 28, 99, ). Dan ada beberapa tanda baca yang tidak sesuai. Hikmah dari beberapa cerita dalam buku ini belum terlalu menonjol, karena kebanyakan cerita hanya menguras air mata para tokoh dan membuat pembaca semakin ngeri dan cerita hanya mengangkat keadaan yang seakan tersudutkan, amanatnya sangat tersirat. Penjelasan sebaiknya semuanya memakai footnote supaya pembaca tidak repot. Karena ada beberapa cerita yang berbau dewasa, buku ini tentunya tak pantas jika dibaca oleh anak-anak di bawah umur. Manfaat Isi Buku : Sebagai bahan pembelajaran pembaca supaya lebih sadar dan peduli dengan orang-orang di luar sana yang masih terkekang oleh adat serta mampu menghentikan dominasi Pria. Membahas masalah kelemahan perempuan dan seputarnya memang takkan ada habisnya apalagi hati perempuan yang terlalu sensitif, di manapun perempuan berada bahaya selalu mengancam, bahkan rumah pun bisa jadi tempat paling berbahaya. Namun, bukan hanya rumah yang berbahaya, orang-orang rumah pun sewaktu-waktu bisa saja menjadi orang yang paling berbahaya bagi perempuan.

Sabtu, 10 Oktober 2015

Mengenal Tuhan "Ilmu Kalam"

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Banyak orang yang mengaku mengenal Allah, tapi mereka banyak melanggar perintah dan larangan Allah SWT.. Sebabnya karena mereka tidak mengenal Allah dengan sebenarnya-benarnya. Faktanya, banyak yang mengaku mengenal Allah tetapi mereka selalu bermaksiat kepada-Nya siang dan malam. Lalu apa manfaat kita mengenal Allah kalau keadaannya demikian? Dan apa artinya kita mengenal Allah sementara kita melanggar perintah dan larangan-Nya? Sekilas membahas persoalan bagaimana mengenal Allah bukan suatu yang asing. Bahkan mungkin ada yang mengatakan untuk apa hal demikian dibahas? Bukankah kita semua telah mengetahui dan mengenal pencipta kita? Bukankah kita telah mengakui itu semua? Kalau mengenal Allah sebatas di masjid, di majelis dzikir, atau di majelis ilmu atau mengenal-Nya ketika tersandung batu, ketika mendengar kematian, atau ketika mendapatkan musibah dan mendapatkan kesenangan, barangkali akan terlontar pertanyaan demikian. Yang dimaksud dalam pembahasan ini yaitu, mengenal Allah yang akan membuahkan rasa takut kepada-Nya, tawakal, berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan yang hanya kepada-Nya. Sehingga kita bisa mewujudkan segala bentuk ketaatan dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh-Nya. Yang akan menentramkan hati kita ketika orang-orang mengalami gundah – gulana dalam hidup, mendapatkan rasa aman ketika orang-orang dirundung rasa takut dan akan berani menghadapi segala macam masalah hidup. Maka dari itu mari kita menyimak pembahasan tentang masalah ini, agar kita mengerti hakikat mengenal Allah dan bisa memetik buahnya dalam wujud amal. Tanpa pengenalan akan Allah yang benar, kita tidak akan memiliki pengenalan yang benar mengenai diri. Kalimat yang terkenal ini diambil dari buku terkenal hasil karya John Calvin, Bapak Reformator di kota Jenewa. Cara mengenal Allah banyak bentuknya, pada makalah ini penulis akan membahas cara mengenal Allah melalui sifat dan hidayah-Nya. 2. Tujuan Makalah - Memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Kalam - Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami bagaimana mengenal Tuhan. BAB II ISI 1. Mengenal Allah Melalui Sifat-Nya Sebagai Sang Khalik, Allah SWT. memiliki sifat-sifat yang tentunya tidak sama dengan sifat yang dimiliki oleh manusia ataupun makhluk lainnya. Dengan mengenal sifat-sifat Allah seseorang dapat meningkatkan keimanannya. Jika seseorang yang mengaku mengenal dan meyakini Allah itu ada namun ia tidak mengenal sifat Allah, maka ia perlu lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.. Sifat Wajib Tulisan Arab Maksud Sifat Sifat Mustahil Tulisan Arab Maksud Wujud ﻭُﺟُﻮْﺩ Ada Nafsiah Adam ﻋَﺪَﻡْ Tiada Qidam ﻗﺪَﻡْ Terdahulu Salbiah Huduts ﺣُﺪُﻭْﺙْ Baru Baqa ﺑَﻘَﺎﺀ Kekal Salbiah Fana ﻓَﻨَﺎﺀ Berubah-ubah (akan binasa) Mukhalafatu lilhawadis ﻣﺨﺎﻟﻔﺘﻪ ﻟﻠﺤﻮﺍﺩﺙ Berbeda dengan makhluk-Nya Salbiah Mumathalatuhu lilhawadith ﻣﻤﺎﺛﻠﺘﻪ ﻟﻠﺤﻮﺍﺩﺙ Sama dengan makhluk-Nya Qiyamuhu binafsihi ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﻨﻔﺴﻪ Berdiri sendiri Salbiah Qiamuhu bighairih ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﻐﻴﺮﻩ Berdiri-Nya dengan yang lain Wahdaniyat ﻭﺣﺪﺍﻧﻴﺔ Esa (satu) Salbiah Ta'addud ﺗﻌﺪﺩ Lebih dari satu (berbilang) Qudrat ﻗﺪﺭﺓ Kuasa Ma'ani Ajzun ﻋﺟﺰ Lemah Iradat ﺇﺭﺍﺩﺓ Berkehendak (berkemauan) Ma'ani Karahah ﻛﺮﺍﻫﻪ Tidak berkemauan (terpaksa) Ilmu ﻋﻠﻢ Mengetahui Ma'ani Jahlun ﺟﻬﻞ Bodoh Hayat ﺣﻴﺎﺓ Hidup Ma'ani Al-Maut ﺍﻟﻤﻮﺕ Mati Sama' ﺳﻤﻊ Mendengar Ma'ani Sami ﺍﻟﺻمم Tuli Basar ﺑﺼﺮ Melihat Ma'ani Al-Umyu ﺍﻟﻌﻤﻲ Buta Kalam ﻛﻼ ﻡ Berbicara Ma'ani Al-Bukmu ﺍﻟﺑﻜﻢ Bisu Qaadiran ﻛﻮﻧﻪ ﻗﺎﺩﺭﺍ Keadaan-Nya yang berkuasa Ma'nawiyah Ajizan ﻛﻮﻧﻪ ﻋﺎﺟﺰﺍ Keadaan-Nya yang lemah Muriidan ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺮﻳﺪﺍ Keadaan-Nya yang berkehendak menentukan Ma'nawiyah Mukrahan ﻛﻮﻧﻪ مكرها Keadaan-Nya yang tidak menentukan (terpaksa) 'Aliman ﻛﻮﻧﻪ ﻋﺎﻟﻤﺎ Keadaan-Nya yang mengetahui Ma'nawiyah Jahilan ﻛﻮﻧﻪ ﺟﺎﻫﻼ Keadaan-Nya yang bodoh Hayyan ﻛﻮﻧﻪ ﺣﻴﺎ Keadaan-Nya yang hidup Ma'nawiyah Mayitan ﻛﻮﻧﻪ ﻣﻴﺘﺎ Keadaan-Nya yang mati Sami'an ﻛﻮﻧﻪ ﺳﻤﻴﻌﺎ Keadaan-Nya yang mendengar Ma'nawiyah Ashamma ﻛﻮﻧﻪ ﺃﺻﻢ Keadaan-Nya yang tuli Bashiiran ﻛﻮﻧﻪ ﺑﺼﻴﺭﺍ Keadaan-Nya yang melihat Ma'nawiyah A'maa ﻛﻮﻧﻪ ﺃﻋﻤﻰ Keadaan-Nya yang buta Mutakalliman ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺘﻜﻠﻤﺎ Keadaan-Nya yang berbicara Ma'nawiyah Abkam ﻛﻮﻧﻪ ﺃﺑﻜﻢ Keadaan-Nya yang bisu 2. Mengenal Allah Melalui Hidayah-Nya Allah memberikan Hidayah kepada makhluknya untuk menjalankan hidupnya dengan mudah sesuai dengan karakteristiknya masing-masing: 2.1. Instink (Gharizah) Merupakan hidayah yang dianugerahkan tidak hanya kepada manusia, tetapi juga kepada binatang. Secara Instingtif, manusia selalu ingin bertuhan. Oleh sebab itu, kepercayaan adanya Tuhan telah berkembang sejak adanya manusia pertama. Abbas Mahmoud Al-Akkad mengatakan bahwa keberadaan mitos merupakan asal-usul agama dikalangan orang-orang primitif. Tylor justru mengatakan bahwa animisme –anggapan adanya kehidupan pada benda-benda mati– merupakan asal-usul kepercayaan adanya Tuhan. Adapun Spencer mengatakan lain lagi. Ia mengatakan bahwa pemujaan terhadap nenek moyang merupakan bentuk ibadah yang paling tua. Keduanya menganggap bahwa Animisme dan pemujaan terhadap nenek moyang sebagai asal – usul kepercayaan dan ibadah tertua terhadap Tuhan Yang Maha Esa, lebih dilatarbelakangi oleh adanya pengalaman setiap manusia yang suka mengalami mimpi. Di dalam mimpi, seorang dapat berteman terhadap, bercakap-cakap, bercengkerama, dan sebagainya dengan orang lain, bahkan dengan orang yang telah mati sekalipun. Ketika seorang yang mimpi itu bangun, dirinya tetap berada di tempat semula. Kondisi ini telah membentuk intuisi bagi setiap orang yang telah bermimpi untuk meyakini bahwa apa yang telah dilakukannya dalam mimpi adalah perbuatan roh lain, yang pada masanya roh itu akan segera kembali. Dari pemujaan terhadap roh berkembang ke pemujaan terhadap matahari, lalu lebih berkembang lagi pada pemujaan terhadap benda-benda langit atau alam lainnya. Abbas Mahmoud Al-Akkad, pada bagian lain, mengatakan bahwa sejak pemikiran pemujaan terhadap benda-benda alam berkembang, di wilayah-wilayah tertentu pemujaan terhadap benda – benda alam berkembang secara beragam. Di Mesir, masyarakatnya memuja Totetisme. Mereka menganggap suci terhadap burung elang, burung nasr, ibn awa ( semacam anjing hutan ), buaya, dan lain-lainnya. Anggapan itu lalu berkembang menjadi pemujaan terhadap matahari. Dari sini berkembang lagi menjadi percaya adanya keabadian dan balasan bagi amal perbuatan yang baik. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kepercayaan adanya Tuhan, secara instingtif, telah berkembang sejak keberadaan manusia pertama. Oleh sebab itu, sangat wajar kalau William L. Reese mengatakan bahwa ilmu yang berhubungan dengan ketuhanan, yang dikenal dengan istilah theologia, telah berkembang sejak lama. Ia bahkan mengatakan bahwa teologi muncul dari sebuah mitos ( thelogia was originally viewed as concerned with myth ). Selanjutnya, teologi itu berkembang menjadi “ theology natural “ ( teologi alam ) dan “revealed theology “ ( teologi wahyu ). 2.2. Panca Indra Yaitu, petunjuk yang dianugerahkan berupa pendengaran, penglihatan, penciuman, dll. Dengan indra, manusia dapat membedakan sesuatu yang bermanfaat dan mudharat bagi dirinya. Akan tetapi, hidayah dalam bentuk ini belum dapat mengantarkan manusia kepada kebenaran, karena kemampuannya yang sangat terbatas. Karena itu, Allah SWT.. menyempurnakan hidayah ini dengan hidayah akal. Setiap manusia mempunyai pendapat dan prinsip tersendiri terhadap apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan.Setelah kita mengenal Tuhan melalui Insting selanjutnya kita mengenal Tuhan melalu Panca Indra. Dari 5 panca indra kita yang berfungsi, kita dapat melihat bahwa kebesaran Allah ada dimana-mana, dari sekeliling kita sudah banyak bukti-bukti kebesaran Allah yang kita jumpai. Seperti halnya Lautan yang membentang lepas dua benua, gunung-gunung dengan fenomena lautan, awan, dan lain sebagainya. Tidak hanya dari penglihatan namun kita juga bisa mendengar, contoh kecil saja kita dapat mendengar orang-orang atau makhluk hidup disekitar kita, kita dapat mendengar deburan ombak yang padahal hanyalah benda mati namun itulah kekuasaan Allah. Selain melihat dan mendengar kita juga dapat mengenal Tuhan dengan cara merasakan, merasakan hal-hal yang tak kasat mata seperti angin, merasakan dinginnya hawa dan air disekitar pegunungan, dan lain sebagainya. 2.3 Akal Yaitu, hidayah akal berupa kemampuan akal untuk memikirkan, memahami, dan mengetahui suatu objek, yang akan dapat membawanya kepada kebenaran dan keselamatan hidup. Al-Qur’an menganjurkan manusia agar memperhatikan segala sesuatu di sekitarnya, serta memeikirkan, memahami, dan mengetahui seluk beluknya sebagai ciptaan Allah SWT. Guna memantapkan keimanannya, seperti terlihat pada Q.S. Ali Imron : 190 “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda – tanda begai orang-orang yang berakal. Nalar / akal berfungsi dalma batasan-batasan panca indra dan tidak bisa lepas darinya. Akal jarang sekali mampu menangkap apa yang di luar jangkauan panca indera, bahkan dalam kegiatan lahiriah kadang bertentangan dengan nafsu, dan seringkali nafsu itulah yang mennag. Akal dengan jelas menunjukkan bahwa suatu perbuatan tertentu akan menyebabkan luka, akan tetapi nafsu memaksa untuk mengabaikan akal. Di sinilah dibutuhkan hidayah yang keempat, yaitu hidayah Ad-Dien yang merupakan karunia ilahi kepada manusia yang terbesar. Bagi kaum Mu’tazilah segala pengetahuan dapat diperoleh dengan perantara akal, dan kewajiban-kewajiban dapat diperoleh dengan pemikiran yang mendalam. Dengan demikian berterimakasih kepada Tuhan sebelum turunnya wahyu adalah wajib . Baik dan jahat wajib diketahui melalui akal dan demikian pula mengerjakan yang baik dan menjauhi yang jahat adalah pula wajib . Dari aliran Asyariah, Al-Aasyari sendiri menolak sebagian besar dari pendapat kaum Mu’tazilah diatas. Dalam pendapatnya segala kewajiban manusia hanya dapat diketahui melalui wahyu. Akal tidak dapat membuat sesuatu menjadi wajib dan tidak dapat mengetahui bahwa mengerjakan yang baik dan menjauhi yang buruk adalah wajib bagi manusia. Betul akal dapat mengetahui Tuhan, tetapi wahyu lah yang mewajibkan orang mengetahui Tuhan dan berterimakasih kepadaNya juga dengan wahyulah dapat diketahui bahwa yang patuh kepada Tuhan akan memperoleh upah dan yang tidak patuh kepadaNya akan mendapat hukuman. Pendapat Al-Asy’ari akal tidak mampu untuk mengetahui kewajiban-kewajiban manusia. Tapi wahyu membawa kewajiban-kewajiban itu. Menurut Al-Baghdadi, akal dapat mengetahui Tuhan, tetapi tidak dapat mengetahui kewajiban berterimakasih kepada Tuhan karena segala kewajiban hanya dapat diketahui melalui wahyu. Al-Ghazali, seperti Al-Asy’ari dan Al-Baghdadi, juga berpendapat bahwa akal tidak dapat membawa kewajiban-kewajiban bagi manusia ; kewajiban-kewajiban dapat ditentukan oleh wahyu. Adapun pendirian Al-Syahrastani, itu dapat diketahui dari buku-buku yang berjudul Nihayah al-iqdam fi ‘ilm al-kalam. Ia sependapat dengan Al-Asy’ari. Al-Maturidi, bertentangan dengan pendirian Asy’ariah tetapi sepaham dengan Mu’tazilah, juga berpendapat bahwa akal dapat mengetahui kewajiban manusia berterimakasih kepada Tuhan. Dengan demikian bagi Al-Maturidi akal dapat mengetahui 3 persoalan pokok, sedangkan yang satu lagi yaitu kewajiban berbuat baik dan menjauhi yang buruk dapat diketahui melalui wahyu. 2.3. Agama Hidayah Ad-Dien (Petunjuk Agama), yaitu berupa wahyu yang diturunkan Allah SWT.. kepada Rasul untuk disampaikan kepada umatnya atau kepada manusia seluruhnya, untuk dijadikan sebagi pedoman hidup guna mencapai kebahagiaan haqiqi di dunia dan akhirat. Wahyu tersebut kemudian dibukukan dan disebut kitab suci. Kitab suci terakhir yang diturunkan Allah kepada umatnya ialah Al-Qur’an, yang diturunkan Allah SWT.. kepada Nabi Muhammad SAW.. sebagai hidayah untuk segenap manusia. Hidayah hanya milik Allah SWT. Oleh sebab itu, tidak seorang pun yang dapat memberikannya selain Allah SWT; baik dalam bentuk hidayah yang umum atau yang khusus. Hal ini diisyaratkan oleh firman Allah SWT.. dalam (Q.S. Al-Qashas : 56) Sesungguhnya kamu tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakinya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerimapetunjuk.” BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan Dari penjelasan yang telah penulis uraikan di atas dapat disimpulkan bahwa: Setelah mengetahui sifat – sifat Tuhan dan hidayah-Nya penulis dan pembaca dapat mengenal Tuhan dengan sesungguhnya tidak hanya pada saat-saat tertentu dan dapat menjalankan segala perintah serta menjauhi segala larangan-Nya. Dan hal yang muncul adalah rasa takut dan senantiasa bertawakal, berharap, menggantungkan diri dan tunduk hanya kepada Allah semata yang maha segala – galanya. Sesungguhnya apa yang Tuhan ciptakan, apa yang ada dalam diri manusia sendiri adalah semua untuk menunjukan kekuasaan-Nya supaya manusia senantiasa bersyukur dan tidak menyombongkan diri atas-Nya. Instink, Panca Indra, Akal, dan Agama semuanya menjawab dari manakah kita sesungguhnya, sehingga manusia dengan akalnya yang sehat bisa mengenal siapa Dien-Nya. Dengan segala kekurangan dalam makalah ini, penulis mohon maaf. Semoga makalah ini sedikit banyaknya dapat bermanfaat dan dapat semakin mendekatkan pembaca dengan Tuhan-Nya. DAFTAR PUSTAKA Al-Akkad, op. cit., hlm. 14 Al Iqtisad, hal 84 Al-milal., I/42 Ibid hal. 15, 42, 50, 51, 45, 101. Nasution, Harun. Teologi Islam. Jakarta: Universitas Indonesia (UI Press) Salemba. 1972. Cet. Ke-5 Raziq, op., cit., hlm. 450 http://jalanlurus.blogspot.com/2012/05/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html?m=1 dilihat pada 17 Maret 2015

Jumat, 02 Oktober 2015

Kesimpulan Film GIe

Kesimpulan Film “SOE HOK GIE” Gie tidak suka dengan organisasi, Gie ingin melihat mahasiswa jika mengambil keputusan yang mempunyai arti politis didasari prinsip yang dewasa benar benar salah salah. Tidak mengatakan benar atas nama agama ormas atau golongan apapun. Cara kebijakan pemerintahan bertentangan bahkan menindas rakyat dengan asas kerakyatan, kebijaksanaan, dan musyawarah. Demokrasi terpimpin hanya sebagai topeng untuk menindas demokrasi itu sendiri. Kita punya pemimpin, yang diakui sebagai founding father, bukan berarti punya kekuasaan absolut untuk menentukan hidup, nasib kita. Apalagi kita sadar adanya penyelewengan dan ketidakadilan. Kalau hanya menunggu dan menerima nasib, kita tidak pernah tau kesempatan yang ada di hidup ini. sederhananya Gie hanya ingin perubahan, supaya hidup lebih baik. Aku tak mau pengenal, aku pengen jadi pohon yang jadi penantang angin. Dalam usahanya membuat kenaikan harga, sasarannya rakyat supaya tidak memikirkan rakyat, mereka hanya mikirkan perut. Kammi akan turun ke jalan dengan tiga tuntutan: 1. Bubarkan PKI 2. Ganti menteri-menteri yang berbau PKI 3. Kembali kepada Pancasila Lebih baik mahasiswa yang bergerak. “Gie, kamu kotor sekali, bau lagi. Kadang mama berfikir, untuk apa kamu lakukan semua ini.” Beberapa tokoh mahasiswa melarang tiba-tiba punya mobil bagus, bahkan beberapa di antara mereka memperkaya diri secara tidak halal dengan kedudukan mereka. Banyak yang mengeluh Gie keras kepala, dan selalu mencari masalah. Biarlah, lebih baik diasingkan daripada menyerah karena kemunafikan. “Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda. Yang tersial adalah yang menunggu tua.”

Hadist dan Sunnah

Hadits dan Sunnah Kalau kita memakai pendapat yang dominan di kalangan para ahli hadits, terutama dari angkatan baru, maka kita akan tahu bahwa sesungguhnya hadits dan sunnah itu memiliki pengertian yang sama, yang satu bisa digunakan untuk yang lain. Masing – masing (Hadits dan Sunnah) berkaitan dengan ucapan, perbuatan, atau penetapan Nabi SAW, namun, jika keduanya dekembalikan kepada asal-usul kesejarahannya, ternyata terdapat sedikit perbedaan antara keduanya dalam penguunaan, baik dari segi bahasa maupun istilah. Hadits, sebagaimanan tinjauan Abdul Baqa adalah isim (kata benda) dari tahdits yang berarti pembicaraan. Kemudian didefinisikan sebagai ucapan, perbuatan atau penetapan yang dinisbatkan kepada Nabi SAW. arti “Pembicaraan” ini telah dikenal oleh masyarakat Arab di zaman jahiliyah sejak mereka menyatakan “Hari-hari mereka yang terkenal” dengan sebutan ahadits (buah pembicaraan) barang kali al-Farra’ telah memahami arti ini ketika berpendapat bahwa mufrad kata ahadits adalah uhdutsah (buah pembicaraan). Lalu kata ahadits itu dijadikan jamak dari kata hadits. Dari sini, populer ungkapan shaara uhdutsah atau shaara haditsan (dia menjadi buah pembicaraan), jika (dia) dijadikan pepatah. Penyair Abu Kildah munggunakan kata atsal (pepatah) dan uhdusah dalam sebaris puisinya, seolah – olah untuk menunjukkan kesamaan arti keduanya: “janganlah jadi buah pembicaraan seperti pembicara, Yang dijadikan pepatah oleh mereka yang berpepatah. Betapapun materi hadits diubah-ubah, kita selalu dapat menemukan arti pembicaraan secara jelas di dalamnya, termasuk dalam firman Allah Ta’ala: Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat (Perkataan/pembicaraan) semisal al-Qur’an (surah ath – thur, 34, dan firman Allah: “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al – Qur’an yang serupa (mutu ayat – ayatnya)” (Surah Az – Zumar, 23) Ada sejumlah ulama yang merasakan adanya arti baru dalam kata hadits lalu merekam menggunakannya sebagai lawan kata qadim (lama), dengan memaksudkan qadim sebagai kitab Allah, sedangkan yang baru ialah apa yang disandarkan kepada Nabi SAW.. dalam Syarah al – Bukhari, Syeikh Islam Ibnu Hajar berkata: “yang dimaksud dengan hadits menurut pengertian Syara’ ialah apa yang disandarkan kepada Nabi SAW. dan hal itu seakan-akan dimakudkan sebagai bandingan al-Qur’an adalah Qadim. Ini menerangkan dengan sangat jelas kepada kita akan keengganan sebagian besar ulama menggunakan nama hadits untuk kitab Allah, atau mengganti “kalam Allah”. Bahkan dalam sunan Ibnu majah terdapat sebuah riwayat hadits nabi yang nyaris memastikan keharusan sikap dan tata krama tersebut. Bersumpah dari Abdullah bin Mas’ud, disebutkan bahwa Rasulullah SAW.. pernah bersabda, “Sesungguhnya hanya ada dua: kalam dan petunjuk. Sebaik – baik kalam adalah kalam Allah dan sebaik – baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Kalau kita menjumpai dalam kebanyakan kitab sunan ungkapan: “sesungguhnya sebaik – baik hadits (perkataan) adalah kitab Allah,” lalu kita menemukan Ibnu Majah sendiri meriwayatkan,” sebaik – baik kalam..” maka tahulah kita bahwa tidak mustahil wara’ (Sikap menghindar dan tata krama) itulah yang mendorongnya memilih ungkapan tersebut. Sedikitnya dasar pegangan kita untuk itu adalah bahwa di kalangan ulama ada yang merasa berat menggunakan kata hadits untuk kitab Allah yang Qadim. Nabi SAW.. sendiri menanamkan sabdanya sebagai hadits. Dan agaknya dengan penamaan itu beliau membedakan apa yang disandarkan kepada beliau dengan yang lainnya. Sehingga seakan – akan beliaulah yang meletakkan dasar – dasar bagi penamaan hadits selanjutnya. Suatu hari Abu Hurairah datang kepada Nabi SAW.. untuk menanyakan tentang orang yang paling berbahagia memperoleh syafaat beliau tahu tak seorang pun pernah menanyakan hadits (pembicaraan) ini sebelum Abu Hurairah. Itu adalah karena antusiasmenya mencari hadits. Sunnah pada dasarnya tidak sama dengan hadits. Mengikuti arti bahasanya, sunnah adalah jalan keagamaan yang ditempuh oleh Nabi SAW.. yang tercermin dalam perilakunya yang suci. Apabila hadits bersifat umum, meliputi sabda dan perbuatan Nabi, maka sunnah khusu berhubungan dengan perbuatan-perbuatan beliau. Karena perbedaan dua pengertian ini, kadang – kadang kita mendapati uacapan ahli hadits: hadis menyalahi kias, sunnah dan ijma’. Atau ucapan: Imam dalam hadis”, imam dalam sunnah, imam dalam keduanya. Yang lebih aneh lagi, kedua pengertian tersebut satu sama lain justru saling menguatkan, seakan – akan berbeda sama sekali, sehingga sah saja bila Ibnu Nadim menyebutkan sat kitab dengan judul: Kitab Sunan dengan Dalil Hadits. Ketika islam memberi jalan dengan kata sunnah, orang – orang arab tidak terkejut. Mereka sudah mengenalnya dengan arti ini, sebagaimana mereka mengenal lawan katanya, bid’ah. Mereka paham sekali makna itu, sampai ketika disandarkan kepada Asma Allah yang agung, seperti dalam firman-Nya: sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang – orang yang telah terdahulu sebelumnya.” (Surah Al – Ahzab: 62). Adapun orang – orang yang mendengar lafadz sunnah itu dari Nabi seperti dalam sabdanya: “hendaknya kalian berpegang teguh kepeda Sunnah-Ku”, maka pada saat itu adalah jalan dan cara Nabi SAW.. dalam kehidupan beliau, baik yang bersifat khusu maupun umum. Madinah al – Munawwarah seperti yang akan kita ketahui Kendati di banyak kalangan sebutan sunnah lain dengan sebutan hadits, setidak tidaknya anggapan adanya persamaan , atau kemiripan konotasi antara keduanya menghinggapi para kritikus hadits, bukankah sunnah amaliyah itu tidak lain daripada thariqah. Nabi yang oleh beliau dikuatkan dengan sabda – sabdanya yang bijaksana, dan petunjuk – petunjuknya yang benar lagi terarah? Apakah tpik sunnah itu berbeda dengan topik hadits?

Jumat, 25 September 2015

Book Report Civic Education (AWESOME!)

Senin, 2 Maret 2015 Selepas matakuliah Akhlak Tasawuf, kita ––MD 2 B langsung naik ke lantai 7 dan duduk-duduk nunggu di depan ruangan 7.21, yeah on the way mata kuliah Civic Education. Eee ternyata pas kita udah nunggu, Bapaknya gak ada... kan sedih. Senin, 9 Maret 2015 Seperti biasa, habis Akhlak Tasawuf kita langsung naik, soalnya jeda cuma 10 menit, takut telat. Eh eh eh ternyata pas kita udah nunggu (lagi) bapaknya gak ada. Kan sedih banget kita, 2 kali dan berturut-turut dosen gak masuk. Bete? Pasti, kenapa sih gitu? Padahal di kelas MD 2 A beliau masuk? Ih pokoknya MD 2 B itu kasian banget. Senin, 16 Maret 2015 Pertemuan pertama setelah DUA minggu gak masuk! Inget dua minggu. Bayangin setelah dua minggu gak masuk. excited banget pas masuk Kelas. Dalam hati ‘akhirnya masuk juga’. Eeee tapi, Pak Study Rizal gak masuk, yang masuk malah Pak Muchlas, dosen pengganti. Tapi, ini bukan masalah besar buat kita. Pak Muchlas orangnya asyik, cara beliau memperkenalkan dirinya, seputar Civic Education. Pokoknya asyik. Apalagi pas beliau jelasin cara kita jadi pemakalah. Kita gak maju di depan tapi kita makenya small group discussion. Sempet parno, kali hari itu bukan rejeki kita dapet kelompok yang anak-anaknya ajaib dunia akhirat, gimana? Susah buat jelasin, apalagi ada notulis terus nanti presentasiin hasil diskusi dari kelompok kita. Pasti kan mereka gak mau diskusi. Maunya ngelakuin sesuka hati mereka. Setelah jelasin ini itu, kita disuruh ngasih pendapat mengenai kondisi bangsa Indonesia saat ini. dalam hati aku bersorak ‘Yeay!’ inilah bagian yang aku suka. Entah apa yang membuatku selalu berapi-api ketika ngebahas Indonesia. Padahal kondisinya miris banget, tapi gak semuanya sih. Cuma ada prestasi Anak Muda Indonesia yang gak diblow up sama media. Setelah kita mengeluarkan pendapat kita tentang Indonesia, Pak Muchlas sempat nanya siapa yang sudah nonton Film ‘Soe Hok Gie’. Aku ngacungin jari, waaaah ternyata Cuma aku doang. Aku juga tau film itu gak sengaja, awalnya karena denger soundtrack film itu karya Eros Chandra yang dicover sama duo kakak beradik. Aku fikir, bagus. Liriknya buat aku penasaran. Setelah lagu, aku nonton Tv pas itu lagi musim-musimnya Grammy Awards. Dibahaslah di situ, Film Indonesia yang hampir pernah masuk nominasi di Grammy. Salah satunya itu film ‘Soe Hok Gie’ ini, kan makin dibuat penasaran. Dan akhirnya coba-coba download. Oke cerita seputar ‘Soe Hok Gie’ dilanjut nanti di bagian nonton dan tugas kesimpulan film ini. Aku inget banget kata-kata Pak Muchlas yang ini di awal pertemuan “Mahasiswa sekarang kerjanya apa? Di kasih kupon starbucks aja udah anteng nongkrong.” Nahlho(?) aku sebagai Mahasiswa ngerasa kata-kata beliau ngejleb banget, jujur, malu banget. Dalam hati nge-Iya-in, dan bertanya-tanya ‘Kenapa ya bisa gitu?’. Ngasih pendapat mengenai kondisi bangsa sudah, perkenalan sudah, pembukaan mengenai materi Civic Education udah. Yeah! This section to share group to short paper. Kita suruh ngitung tuh dari 1 sampai 9. Aku dapat kelompok 7, materinya Otonomi Daerah. And then setelah semua beres, materi sama buku rekomendasi udah di kasih tau, sekarang waktunya pulang! Sampai ketemu minggu depan di makalah pertama  Senin, 23 Maret 2015 Pendahuluan Civic Education Makalah pertama, sebagai percobaan dengan pola penyampaian materi perkelompok diskusi kecil. Awalnya ngerasa aneh, kelas jadi rame banget kan. Sana sini ngomong, kaya di pasar. Belum lagi, anak-anak yang belum tau definisi istilah-istilah penting di pendidikan kewarganegaraan. Sumpah, ngerasa terganggu banget. Kadang mikir, ‘Itu kan istilah paling dasar dan menurut aku sepele, masa gak tau? Dulu pas SMA pada ke mana aja?’. Lambat laun bisa adaptasi dengan kondisi penyampaian materi dengan pola yang baru. Civic education, kalo diartiin bahasa Inggrisnya. Civic berarti bersifat kewarganegaraan – yang memikirkan kepentingan umum. Sedangkan Education yaitu pendidikan. Digabungiin deh Civic Education, artinya pendidikan yang membahas tentang kewarganegaraan. Tentang bagaimana sekelompok manusia berkumpul dalam suatu organisasi baik itu organisasi sosial, politik, maupun ekonomi. Mungkin dulu waktu SMA dikenal dengan PKn (Pendidikan Kewarganegaraan). Sekarang bahasanya gaul dikit, ngikutin jaman kan globalisasi jadi makenya bahasa asing, Civic Education.  Kompetensi dasar dan tujuan dengan adanya Civic Education sendiri adalah untuk mentransfer Civic Knowledge, Civic Disposition, dan Civic Skills. Keberadaan Civic Education sendiri karena negara kita adalah negara demokrasi. Jadi, pendidikan mengenai demokrasi harus diajarkan sejak dini. Serta menjadikan warganegara yang cerdas, aktif, kritis, partisipatif, sadar akan demokrasi, dan bisa mengembangkan kultur demokrasi yang berkeadaban. Inti dari keberadaan matakuliah Civic Education yaitu untuk memberikan pelajaran pada kita tentang active learning, transfer learning, transfer of value, dan transfer of principle demokrasi dan HAM untuk menumbuh kembangkan Civil Society atau Masyarakat Madani. Sedangkan orientasi Civic Education sendiri menekankan pada pembelajaran dan upaya pemberdayaan mahasiswa sebagai bagian warganegara Indonesia secara demokratis. Yang di mana harapan akhir dari Civic Education mahasiswa tidak hanya mengetahui teori, namun mahasiswa bisa mempraktekkannya di kehidupan sesungguhnya. Serta mahasiswa bisa menjadi warganegara yang aktif, cerdas, partisipatif, dan sadar akan pentingnya demokrasi. Maka dari itu, Civic Education itu sangat penting bagi pembangunan budaya dan keberlanjutan Demokrasi di Indonesia. Setelah belajar PKn dari dulu baru tau penting dan fungsi pelajaran ini. Parah banget ini. Mau belajar, tapi gak tau tujuan mempelajarinya. Tapi, gak apa-apa seenggaknya sekarang sudah tau. Penting banget untuk praktek dan kelangsungan demokrasi Indonesia agar bersih dan sesuai prosedur. Supaya tidak terjadi pelanggaran-pelanggaran hukum. Alhamdulillah hari ini ilmu nambah. Semoga di makalah selanjutnya makin banyak yang bisa diperoleh, dan diskusinya makin mengasyikkan. Senin, 30 Maret 2015 Negara Tak terasa udah makalah kedua... Sekarang pembahasan mengenai Negara. Negara? Semua pasti sudah tau apa itu negara? Teori terbentuknya negara? Bagaimana bentuk-bentuknya? Unsur-unsur terbentuknya negara apa aja? Hubungan negara dengan warganegara? Hubungan agama dengan negara? Negara dan segala tetek bengeknya itu pasti sudah dipelajari sejak SD. Kata-kata negara sudah tidak asing lagi di telinga kita, kita sering nyebut Negara Indonesia. Tapi, hubungan negara dengan warganegara di Indonesia menurut aku ada yang salah. Kenapa? Karena sebenarnya kewajiban negara terhadap warganya pada dasarnya adalah memberikan kesejahteraan hak hidup dan keamanan lahir batin sesuai dengan sistem demokrasi yang dianut. Pada kenyataannya, banyak warganegara Indonesia yang hidup di bawah angka kemiskinan. Apakah ini dinamakan sejahtera? No, no, no. Keamanan lahir batin? Ya bisa jadi ada yang belum, karena dengan banyaknya warganegara yang hidup di bawah garis kemiskinan gimana mau aman lahir batin? Anak-anak jalanan hidup di bawah tekanan kehidupan yang begitu keras, dan pastinya kurang sesuai dengan usia mereka. Kekerasan selalu mengintainya kapanpun. Belum lagi warganegara yang hidup di daerah pedalaman, seperti Papua yang sering terjadi konflik antar suku. Aku bingung mau nulis apa lagi, karena pembahasan yang ada di makalah tidak selengkap yang tercatat di silabus  Pokoknya yang aku tahu, aku hidup di negara Indonesia yang udah berganti-ganti model pemerintahannya. Senin, 6 April 2015 Konstitusi dan Tata Perundang-Undangan Dalam Kehidupan Kenegaraan Menurut aku, konstitusi dan tata perundang-undangan dalam kehidupan adalah seperangkat peraturan yang mengikat suatu pemerintahan dalam menjalankan kewajiban yang sesuai dengan hukum (tunduk pada hukum). Dan membatasi tindak ke sewenang-wenangan Pemerintah dalam menjalankan Pemerintahannya baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Atau aturan dasar yang dasar hubungan kerjasama antar negara dan warganegaranya dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Membatasi tindak ke sewenang-wenangan Pemerintah? Pemerintah kadang baik, namun birokrat yang ada di bawahnya yang suka pada sewenang-wenang. Belum lagi masalah hukum uh yang kadang buat gerah. Gimana gak gerah, orang yang tau hukum malah yang menjadi pelanggar paling pertama? Mungkin ada yang salah dengan sistem pendidikan Kita atau memang udah turun temurun dan kodratnya para penegak hukum suka melanggar hukum itu sendiri. Dia yang membuat, dia yang melanggar. Dia yang seharusnya menegakkan, malah dia yang harus ditegakkan. Ulalah. Indonesia Raya... Sudahlah segini saja, gak tau apa lagi yang harus ditulis di sini. Senin, 13 April 2015 Identitas Nasional dan Globalisasi Identitas nasional adalah manifestasi budaya yang berkembang dalam aspek kehidupan suatu bangsa. Adapun identitas nasional diperlukan untuk anteraksi antar bangsa, menentukan status dan peranan bangsa tersebut di dunia Internasional. Globalisasi dan Identitas Nasional? Globalisasi sudah sangat akrab dengan telinga kita. Pokoknya dengan adanya globalisasi hidup jadi mudah. Kata siapa? Kata saya. Gak, gak, gak. Mudah atau tidaknya tergantung masing-masing pribadi individu dalam menghadapinya. Dengan adanya Globalisasi otomatis ada dua kemungkinan yang terjadi, lunturnya identitas suatu negara atau boomingnya identitas suatu negara bukan? Jika generasi mudanya punya Identitas yang kuat, dia bisa mensosialisasikan Idenitas nasional negaranya ke dunia Internasional. Namun, jangan sampai terjadi akulturasi yang berlebihan, apalagi mengambil budaya luar yang kurang sesuai dengan budaya nasional. Dengan adanya globalisasi juga berarti kita ikut dalam pembangunan masyarakat dunia dan berandil dalam setiap pengembilan keputusan. Dengan adanya globalisasi, bisa saja kita jadi over Internasionalisme. Hah? Bahasa itu hanya ada aku yang punya oke? Dengan adanya over internasionalisme itu atau lunturnya rasa nasionalisme kita harus adanya Revitalisasi Identitas Nasional, yaitu dengan revitalisasi Pancasila yang bertujuan untuk mengurangi lunturnya degradasi moral, karena moral dapat dijadikan dasar dan arah dalam upaya mengubah segi dan sendi kehidupan. Kenapa harus Pancasila yang harus direvitalisasi? Karena Pancasila merupakan tujuan dan cita-cita bangsa Indonesia yang sesuai dengan budaya dan norma-norma bangsa Indonesia. Dengan adanya revitalisasi Pancasila pasti harus ada wujud pemberdayaan Identitas Nasional kan? Apa aja ya yang harus diberdayakan? Yang pertama yaitu dari segi spiritual ada moral, etika, dan religius. Yang kedua, dari segi akademis, karena dengan adanya pendidikan bukan hanya merubah kerangkan SDM namun juga prestasi, kontribusi, dan aplikasi hasil dari pendidikan itu sendiri. Yang ketiga yaitu dari segi kebangsaan dengan menunbuhkan kesadaran nasionalisme dalam pergaulan antar bangsa. Yang keempat yaitu, dengan Mondial yaitu cara untuk menyadarkan manusia bahwa manusia harus siap menghadapi dialektika perkembangan dalam masyarakat dunia yang terbaru. Ini adalah beberapa wujud kritik sosial terhadap penyimpangan yang melanda. Sebenarnya Identitas Nasional itu bisa fleksibel loh, karena Identitas merupakan sesuatu yang berubah dan terbuka untuk diberi warna baru agar sesuai dengan tuntutan zaman. Namun, yang harus digaris bawahi di sini yaitu sesuai tuntutan zaman dan sesuai dengan norma-norma yang berlaku di suatu kelompok masyarakat. Senin, 20 April 2015 Demokrasi: Teori dan Aksi Semua orang sudah tau apa itu demokrasi, dari bahasa mana itu demokrasi, hakikat demokrasi pasti sudah umum dibahas. Demokrasi sebagai pandangan dan pegangan hidup bersama. Demokrasi of the people, by the people, for the people. Mekanisme untuk mewujudkan kedaulatan rakyat atas negara untuk dijalankan oleh negara tersebut. Sebenarnya yang unsur-unsur yang dibutuhkan dalam tatanan masyarakat demokrasi sebagian sudah dimiliki oleh bangsa Indonesia. Namun, dalam perjalanannya, ada kekeliruan sehingga demokrasi di Indonesia belum mampu selangkah lebih baik. Memang demokrasi adalah proses tanpa henti, tapi kesalahan demokrasi di Indonesia itu bukan kesalahan secara teknis atau ketidak tahuan. Namun, di sana terdapat unsur kesengajaan dan mampu memonopoli semuanya. Unsur-unsur penopang masyarakat demokrasi adalah adanya negara hukum dan masyarakat madani. Indonesia kan negara hukum fifty fifty, negara hukum bagi mereka yang tidak punya kedudukan alias rakyat kurang mampu. Itu sudah terbukti. Tiap hari berita di media elektronik berseliweran tentang hukum di Indonesia yang memihak. Katanya equality before the law, ciri-ciri hanya ciri-ciri namun kenyataannya tidak ada. Belum lagi kita belum menjadi mayarakat madani keseluruhan, masyarakat madani di Indonesia hanya 5%. Dengan segala yang terjadi itu, masih bisakah Indonesia disebut negara Demokrasi? Atau negeri ½ demokrasi(?) Ditambah lagi akhir-akhir ini sebagian pers hanya memihak ke kelompok-kelompok tertentu. Sehingga, berita yang dimuat hanya untuk mengadu domba, timpang sebelah. Memang dari sekolah Dasar kita sudah dapet pelajaran Kewarganegaraan. Tapi kan di sisi lain ada prinsip-prinsip demokrasi yang belum bisa berjalan sesuai prosedur. Tapi, untuk mengukur sejauh mana sistem demokrasi di suatu negara bukan hanya hal-hal tadi, masih ada lagi seperti Pemilihan Umum, Susunan Kekuasaan Negara, dan Kontrol Rakyat. Atau menurut Daul A. Robert adalah, Kontrol atas keputusan pemerintah, Pemilihan umum yang sejujur, Hak memilih dan dipilih, Kebebasan menyatakan pendapat tanpa ancaman, Kebebasan mengakses informasi, dan Kebebasan berserikat. Semua yang sudah di sebutkan sudah ada di Indonesia sekarang ini ya karena Indonesia Negara Demokrasi katanya. Namun, tetap saja ada yang dijalankan sesuai prosedur ada yang jauh luar biasa dari prosedur. Ya beginilah negara kita Indonesia tercinta. Demokrasi dan Islam? Islam? Menurut aku dalam Islam kita sudah belajar apa yang namanya demokrasi, tapi secara sederhana. Iya kan. Kita bisa dipilih dan memilih, asalkan mempunyai ilmu yang mumpuni. Kebebasan berserikat, dalam Islam sudah diatur jelas bagaimana kita disuruh untuk duduk dengan orang-orang yang berilmu. Maksud mereka mungkin juga sama ya(?). Jujur? Itu hal yang wajib ada di Islam bukan? So, menurut aku Islam dan demokrasi saling berkaitan namun dalam taraf yang masih sederhana. Bukan seperti demokrasi yang sudah berlaku di negara-negara maju. Indonesia sudah menjalani sistem demokrasi selama bertahun-tahun, demokrasi pun adalah proses panjang yang harus dipelajari terus menerus. Mungkin kalo kita ngaji itu, Indonesia belajar demokrasi sudah khatam berpuluh-puluh kali. Namun, ada beberapa sistem demokrasi di Indonesia yang keliru. Keliru? Atau sengaja. Hahahaaa kurang tau. Menurut aku, keliru dan gak dijalanin sesuai dengan prosedur yang seperti berlaku di negara-negara maju. Atau mungkin demokrasi yang sesuai seperti di negara maju tidak sesuai dengan negara kita? Uh aku gak mau jauh-jauh ngomongin ini. Takut, nanti salah jadi berabe. Ilmu masih cetek banget ini, gayanya mau ngomen-ngomen. Bagian demokrasi segini dulu ya, emang segitu yang saya tau. Jangan panjang-panjang nulisnya, kalo panjang-panjang nanti malah jadi sok tahu. Sok-sok-an jadi orang bak berpendidikan sudah tinggi. Sudah dulu yaa diary minggu ini, nanti berabe makin ngoceh-ngoceh gak jelas. Seee you di diary minggu selanjutnya  Senin, 27 April 2015 OutdoorAactivities (Kelompok tugas poster) Waaaah udah outdoor activities aja ini, gak terasa sudah UTS. Perjalanan semester dua ini tinggal setengah. Outdoor Activities, agak sedih pas dapet tugas ini. Bukan tugasnya, tapi pas di kasih tau kalo kelompok tugas ini adalah small group discussion hari itu soalnya ini kan buat nilai UTS. Kan sedih kalo nilainya jelek. Kenapa takut? Pertama, teman kelompoknya semua ajaib. Kedua, aku gak punya bakat gambar sedikitpun. Ketiga, pokoknya bete deh, pengen nangis banget. Setelah beli semua peralatan, kita gambar. Kebetulan ada matakuliah yang dosennya absen, jadi kita bisa ngerjain. Kalo gak kaya gitu gimana kita bisa kumpul bareng ngerjain. Anaknya susah-susah. Itu aja udah dongkol banget hati. Poster pertama sudah hampir jadi, poster kedua belum apa-apa masih kertas putih tanpa coretan apapun. Habis UTS Bahasa Inggris kebetulan ketemu Rafi. Karena yang ngehandle semua aku, perlengkapan juga sama aku. Jadi aku kasihin peralatan poster kedua sama Rafi. Ya walalupun habis itu aku di marahin  iyalah dimarahin. Rafi kan agak-agak, masuk aja jarang. Bagaimana mungkin aku bisa mercayain hal sebesar itu sama dia, sedangkan hari Kamis, besoknya itu poster sudah harus dipasang. Tapi aku coba yakinin diri, itu pasti jadi. Yeeeeay pas kamis pagi, di depan ruang 5.22 aku dibohongin. Katanya dia gak bawa, aku udah mau nangis. Mana berangkat udah kesiangan, tapi untungnya belum terlambat sih. Dia bilang belum jadi, dan gak dibawa. Tapi, pas aku udah cemberut terus di kasiin gambar. Buru-buru langsung aku buka. Alhamdulillah, kan jadi beneran, yang penting pertama percaya dulu. Kalo gak percaya gimana mau jadi bukan? Setelah mata kuliah bahasa Indonesia, kita nyelesaiin dua poster ini sampe selesai di depan lift lantai lima. Kita ––MD 2 B di sini semua nyelesaiinnya. Lempar-lemparan spidol, pensil, penghapus, gunting, lem, solatip, krayon. Lantai lima hari itu heboh sama kita-kita. Sampai kita mau UTS Teori Perilaku Organisasi kocar kacir. Belum ngereview bacaan semalem lagi. Takut lupa. Selesai! langsung tuh buru-buru ke lantai enam. Kita memang lucu. Habis UTS, kita turun ke basement bareng-bareng satu kelas, nempelin poster deh. Selesai, pulang... Legaaaa, akhirnya selesai dan dipasang juga  Senin, 4 Mei 2015 Presentasi Maksud dan Tujuan Dibuatnya Poster Akhirnya setelah minggu-minggu yang sangat melelahkan dan menguras emosi berlalu, sekarang waktunya presentasi maksud dan tujuan dibuatnya poster kelompok kami. Huh. Sayang pas presentasi kelompok kami kurang, Rafi sama Gatra kagak ada. Kan sedih. Padahal gambar kedua yang asbak itu yang gambar Rafi, dia juga ikut bantu-bantuin kita sampe selesai. Tapi pas presentasi dia gak ada, kasian banget. Waktu presentasi kita diuji noh bisa gak kita mertahanin pendapat kita, tapi kebanyakan yang presentasi malahan pada tambah bingung. Termasuk kelompok aku. Waaaakks! Padahal bapaknya juga nanya-nanya sambil bercandaan. Emang kita ma gitu, makin ditanya muter-muter sukanya makin kebingungan. Maklumin aja, efek kemajuan teknologi. Maaf ini foto poster Cuma satu, ini juga ngambil dari Instgram. Entah kemana itu poster ngilangnya. Yang bawa pulang gak tanggung jawab banget. Dari awal semua perlengkapan poster sudah di aku, kan capek. Ilangnya poster ini, dijadiin pelajaran aja. Emang sih bete, tapi mau nyari di mana lagi kan? Ya sudahlah, udah berusaha nyari juga. Tapi gak ketemu. Pasrah. Senin, 11 Mei 2015 Tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih (Clean and Good Governance) Clean and Good Governance, hal ini masih jadi angan-angan bangsa Indonesia. Bahkan sampai detik ini, ketika saya ngetik, ketika Bapak baca tulisan saya. Entah kapan akan tercapai, yang jelas bukan sekarang. Iyalah bukan sekarang. Lihat keadaan para elite politik kita, gak ada sedikitpun potensi untuk jadi Clean and Good Governance sedikit pun. Bukan pesimis, tapi memang begitu keadaannya. Gak usah panjang-panjang ngartiin Clean and Good Governance. Pura-pura jadi orang awam aja yang hanya mengartikan lewat arti kata-kata itu. Clean Governance, Pemerintahan yang bersih. Sudah terlaksanakah di Indonesia? Ayo kita lihat. Para koruptor masih tersenyum dengan bangganya di media, parahnya mereka gak ngaku bersalah. Padahal sudah jelas-jelas dijadikan tersangka. Yang dituding bersalah malah sekarang ngetrend ngajuin banding. Ya Allah, segitunyakah? Selanjutnya Good Governance pemerintahan yang baik, di makalah tertulis pada halaman 2. Pemerintahan yang baik adalah model pemerintahan yang efektif, efisien, jujur, transparan, dan bertanggung jawab. Ayo sekarang lihat lagi dengan keadaan Indonesia, sudah adakah? Menurut aku ada, tapi masih minim-minim banget yang terlaksana. Apalagi soal jujur dan transparan-transparan itu. Hah, itu susah di jalani di Indonesia, nampaknya. Lagi-lagi ya Indonesia susah menerapkannya, ditambah dengan prinsip-prinsip Clean and Good Governance. Kaya, partisipasi, penegakkan hukum, transaparansi, efektifitas, responsif, orientasi kesepakatan, kesetaraan, akuntabilitas, visi strategis. Ayo ayo kita lihat lagi, sudah adakah prinsip-prinsip itu di praktek pemerintahan Indonesia? Menurut aku belum ada, belum terlihat juga. Pemerintah belum proaktif dalam menganalisis dan memenuhi kebutuhan rakyatnya. Sejalan dengan prinsip demokrasi, pasrtisipasi masyarakat adalah merupakan salah satu tujuan dari implementasi Clean and Good Governance. Keterlibatan masyarakat dalam lembaga-lembaga pemerintahan akhirnya melahirkan kontrol masyarakat terhadap jalannya roda lembaga-lembaga pemerintahan. Dengan adanya kontrol masyarakat juga diharapkan dapat berdampak pada keefektifan kinerja kaum birokrat kita dan terbebasnya dari KKN. Namun, kontrol masyarakat tidak begitu saja dapat terwujud. Ada loh awalnya dia mau ngontrol, tapi akhirnya dia ikut terjerumus, nah gimana ini? Dia malah ikut menikmati. Bubar sudah tujuan awal. Ada juga yang tujuan awalnya mau ngontrol, tapi pas mau lapor dia takut. Loh? Gimana lagi ini? Yaa begitulah sifat manusia. Namun, saat masyarakat sudah bener, mengontrol jalan roda pelayanan pemerintah terhadap masyarakat berjalan mulus. Lembaga-lembaga negara (Orangnya bukan lembaganya), lupa akan tujuan, peran serta fungsi lembaga itu. Belum lagi lembaga peradilan yang kurang berwibawa dan kurang bersih. Makin pusing pala barbie. Profesional dan integritaaparatur pemerintah pun masih harus dipertanyakan. Bagaimana sih paradigma mereka tentang birokrasi populis, bukan birokrasi yang melayani orang-orang tertentu saja. Praktek dokter kali ah. Selain itu juga, harus adanya peningkatan partisipasi masyarakat dan kesadaran masyarakat akan demokrasi. Nampaknya bagian ini masih minim banget deh di Indonesia karena kesejahteraan rakyat belum terpenuhi. Bagaimana rakyat mau mikirin demokrasi. Hari ini masih bisa makan saja untung, ngapain mikirin demokrasi yang hanya angan-angan itu? Tidak sejahteranya masyarakat, tidak sadarnya masyarakat akan demokrasi, lagi-lagi faktornya karena korupsi yang dilakukan oleh aparatur negara. Semua aspek demokrasi di Indonesia dinodai oleh praktek-praktek korupsi. Ada sih lembaga anti korupsi. Tapi, lihatlah akhir-akhir ini lembaga yang sedang memperjuangkan hak-hak rakyat sedang dilemahkan. Miris sekali. Bisa dilihat dengan pelemahan KPK, political will dan political action dari pemerintah masih setengah-setengah. Lucu banget ya. Pemerintah kok negakkin hukum setengah-setengah, lu kira lagi bercanda? Gimana gak setengah-setengah, yang buat Undang-undang mereka, nantinya mereka juga yang mau ngelanggar. Mana mau mereka masuk dalam perangkapnya sendiri. Harusnya ada tindakan hukum yang bersifat shock theraphy dan bisa membuat jera para pelaku-pelaku korupsi. Sampai kapan negara kita harus terkungkung dengan hal semacam ini? Capek lihatnya. Selain KPK ada sih lembaga yang mengontrol kinerja pemerintah, kaya ICW (Indonesia Corruption Watch) atau ombudsman. Tapi, kontribusi mereka gak se-nge-trend kontribusi KPK. Kalo sudah seperti ini, yang paling berkontribusi sudah dilemahkan, tapi tapi KPK tetap bisa bekerja maksimal kok. Buktinya mereka bisa tangkap tangan praktek-praktek korupsi. Satu-satunya jalan untuk meminimalisir praktek-praktek korupsi adalah memberikan pendidikan anti korupsi se-dini mungkin, dan harus diterapkan di lingkungan keluarga. Selain itu, harus ditambah dengan ajaran nilai-nilai agama agar mereka sadar akan kehidupan akhirat. Sudah deh mereka mengurangi korupsinya. Iya kalo terlaksana, dan kalo sadar. Tata kelola pelayanan yang baik dan bersih bisa dilihat dari kinerja pelayanan publiknya. Lihat aja di Indonesia gimana pelayanan publiknya. Sudah puaskah anda? Kalo aku sendiri belum puas sekali. Lihat saja, pelayanan rumah sakit pengguna BPJS, pasti susternya kurang ramah. Itu kan sudah bukan rahasia lagi. Belum lagi di bagian-bagian pelayanan publik lain, masih banyak banget kekurangannya. Lagi-lagi- dan lagi yang mempengaruhi tingkat pelayanan birokrasi adalah kualitas sumber daya manusia. Dari mana lagi kualitas di dapat kalo bukan itu hasil dari pendidikan. Berarti, ada yang salah dengan sistem pendidikan kita. Bukan ada mungkin, dari awal semua sistemnya salah. Iya salah, tengok saja saat musim Ujian Nasional. Aksi contek mencontek dan dalangnya oknum guru sudah tidak asing lagi. Itulah sebabnya makin ke sini keadaan kita makin carut marut, makin amburadul, makin kusut. Entah cara apa yang bisa meluruskan ini semua, dan butuh waktu berapa lama untuk menyelesaikan ini. wallahua’lam... Senin, 18 Mei 2015 Otonomi Daerah dalam Kerangka NKRI Wewenang pemerintah daerah untuk mengurus sendiri urusan dan kepentingan pemerintahan di daerahnya sendiri secara mandiri yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dengan adanya otonomi daerah bisa menjadi sarana pendidikan politik. Selain itu juga untuk terciptanya efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan, stabilitas politik, kesetaraan politik, dan sebagainya. Dengan adanya otonomi daerah diharapkan akan terlahirnya penyelenggaraan pemerintah yang responsif terutama dalam menangani perekonomian daerah. Selain itu juga dengan adanya otonomi daerah bisa jadi strategi untuk mengoptimalkan potensi yang ada di daerahnya. Otonomi daerah bisa dikaitkan dengan adanya Pilkada langsung, karena dengan adanya pilkada langsung kepala daerah langsung mendapat legitimasi dari rakyat. Sehingga kepala daerah seakan bertanggung jawab untuk memenuhi hak dan kewajiban rakyatnya, karena sudah dipilih oleh rakyat secara langsung. Kelebihan dan kekurangan Otonomi daerah itu sendiri adalah: Kelebihan: - Bisa mengembangkan potensi daerah - Bisa menjadi karir lanjutan - Dapat mengembangkan nilai tradisi - Memudahkan proses perizinan usaha, dan lain-lain Kekurangan: Dengan adanya otonomi daerah, jadi banyak pemekaran daerah. Memang tidak ada yang melarang. Namun, takutnya para perangkat pemerintahan di daerah baru itu belum siap untuk memenuhi semua kebutuhan warganya. Terjadilah pelanggaran, belum lagi dengan adanya anggaran yang besar, bisa saja karena mereka minim pengetahun anggaran itu digunakan tidak sesuai dengan yang seharusnya atau mereka buta karena kekuasaan. Terjadilan money politic. Anggaran yang seharusnya buat warga, tidak tersampaikan. Senin, 25 Mei 2015 Hak Asasi Manusia Hak Asasi Manusia atau Human Rights, pertama kali ada setau aku pada peradaban Eropa. Namun juga ada yang bilang HAM sudah ada sejak peradaban Islam, iyalah pasti ada Islam kan mengatur semua sisi kehidupan kita pasti ada. Islam mengajarkan tentang kebebasan, keadilan, pasti HAM dan Islam sangat berkaitan. Cuma kita aja yang belum menyadari, kita semua nganggapnya dari dunia barat. Para pejuang HAM di Barat dulunya untuk diakui sangat sulit, setelah ke sana sini, akhirnya mendapat pengakuan dari PBB. Namun, perjuangan gak sampai di situ, pengakuan dari negara-negara lain masih minim banget. Akhirnya hasil tidak menyalahi proses, pengorbanan membawa hasil yang maksimal. HAM sekarang sudah ada di mana-mana, walaupun masih ada kekurangan di sana sini. Di Indonesia sendiri HAM diatur oleh UU Nomor 39 Tahun 1999. Walaupun sudah ada peraturannya yang tertulis di Undang-undang, namun banyak kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi, dan sampai sekarang masih belum selesai setelah bertahun-tahun. Bahkan, ada beberapa kasus yang tidak jelas arahnya, selesai tanpa kabar. Karena itu, pada masa orde baru yang gemar menyuarakan HAM adalah organisasi non pemerintah atau LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Usaha mereka membuahkan hasil, diawal tahun 90-an dibentuklah Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM). Sayangnya lembaga ini tidak berdaya dalam mengungkap kasus-kasus pelanggaran HAM pada masa itu. Berikut Kasus Pelanggaran HAM di Indonesia yang menggemparkan dan masih agak janggal proses penyelesaiaannya 1. Tragedi 1965 – 1966 Pembunuhan jenderal pada 30 September, yang dituding oleh pemerintah saat itu adalah Partai Komunis Indonesia (PKI). Selanjutnya, PKI dibubarkan dan dibersihkan dari pemerintahan. Dalam tragedi ini 500ribu – 3 juta orang terbunuh, diasingkan, dan selama bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang PKI. Komnas HAM menuding bahwa Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Panglima Militer daerah yang menjabat saat itu adalah yang paling bertanggung jawab. Kasus ditangani oleh Jaksa Agung, pada tahun 2013 Jaksa Agung mengembalikan berkas ke Komnas HAM dengan alasan data kurang lengkap. 2. Kasus Penembakan Misterius (Petrus) atau Operasi Clurit Operasi Rahasia yang digelar oleh mantan Presiden Soeharto pada masa pemerintahannya dahulu dilakukan dengan dalih mengatasi tingkat kejahatan yang tinggi. Sehingga mengganggu keamanan dan ketentraman. Namun, dilakukan dengan pembunuhan dan penangkapan. Anehnya, mereka tak pernah tertangkap, dan kasusnya tak pernah diadili. Pada tahun 1983 532 orang tewas, 367 orang tewas akibat luka tembak. Pada tahun 1984 107 orang tewas, 15 orang tewas akibat luka tembak. Pada tahun 1985 74 orang tewas, 28 orang tewas akibat luka tembak. Korban penembakan misterius ini selalu ditemukan dalam kondisi tangan lehernya terikat. Sebagian besar korban jiwa dimasukkan ke dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, atau dibuang ke sungai, hutan, laut, dan kebun. 3. Tragedi Semanggi dan Kerusuhan 1998 Tragedi ini diawali oleh konflik finansial, terjadilah demo besar-besaran di seluruh Indonesia. Puncaknya terjadi di Jakarta. Selanjutnya dipicu oleh tewasnya empat mahasiswa Trisakti yang tertembak 12 Mei 1998. Jaksa Agung ‘Kasus Ini bisa diselesaikan, jika ada rekomendasi dari DPR ke Presiden.’ Selanjutnya, Jaksa Agung mengembalikan berkas ke Komnas HAM. Jaksa Agung ‘Kasus tidak dapat ditindak lanjut. Karena, DPR sudah memutuskan tidak ditemukan pelanggaran HAM berat.’ Yang lainnya, Jaksa Agung menganggap kasus penembakan Trisakti sudah diputuskan oleh pengadilan militer pada tahun 1999, dan tidak dapat diadili untuk kedua kalinya. 4. Terbunuhnya Munir Said Thalib (Aktivis HAM) Munir meninggal di pesawat tujuan Jakarta – Amsterdam pada 7 September 2004. Namun dalam perkembangannya, kasus ini hanya mampu mengadili pilot Garuda, Pollycarpus Budihari Priyanto yang divonis 14 tahun penjara. Selanjutnya, Polly dibebaskan bersyarat Jum’at (28/11) lalu. 5. Tragedi Wamena Berdarah 4 April 2003 Pembobolan senjata markas kodim 1702 / Wamena oleh orang tak dikenal menewaskan dua orang anggota kodim. Dalam rangka pengejaran, diduga aparat TNI Polri telah melakukan Penyisiran, Penangkapan, Penyiksaan, dan Perampasan. Sehingga adanya korban jiwa dan adanya pengungsian penduduk. Pada tragedi ini diduga 42 orang meninggal karena kelaparan. 15 orang korban perampasan. Belum lagi korban pemaksaan penandantangan surat pernyataan, perusakan fasilitas umum. Dalam proses penyelesaiannya, terjadi proses tarik ulur antara Komnas HAM dan Jaksa Agung. Sementara, para pelaku sekarang menikmati hidup bebas, mendapat kehormatan sebagai pahlawan, kenaikan pangkat, promosi jabatan tanpa tersentuh hukum. Sedangkan para korban hidupnya memprihatinkan. Cih! Semua terlalu munafik. Belum lagi pelanggaran HAM yang dilakukan Pemerintahan Orde Baru, seperti Tanjungpriuk, Kedung Ombo, Lampung, Aceh. Belum lagi akhir-akhir ini maraknya penggusuran. Revitalisasi tiga konvensi HAM: a) Penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan, UU No. 7 Tahun 1984. b) Konvensi Anti Apartheid dalam Olahraga, UU No. 48 Tahun 1993. c) Konvensi Hak Anak, Keppres No. 36 Tahun 1990. Tuh kan, lagi-lagi penegak hukum yang harus ditegakkin hukumnya. Bahkan ada pelanggaran HAM yang dalangnya adalah pemerintah sendiri. Sangat memalukan. Padahal pemerintah seharusnya melindungi. Mana lembaga pemerintahan sampai sekarang belum bisa menyelesaikan kasus-kasus terdahulu, dan sekarang. Senin, 1 Juni 2015 Nonton Film ‘Soe Hok Gie’ Tadi di pembukaan udah sedikit dibahas kenapa aku nonton Film ini, jujur awalnya gak tau kalo ini Film berbau perjalanan seorang aktivis. Taunya Lagu yang liriknya bagus, pernah mau masuk nominasi Grammy Awards. Ya udah... aku ngambil kesimpulan berarti Film ini bagus dan mutusin download. Pas udah nonton, ya walaupun pertama kali nonton sampai ngantuk-ngantuk. Alasannya karena, pertama, perpindahan satu adegan ke adegan lain itu terlalu keras(?) apa ya bahasanya, pokoknya gitulah. Jadi, kaya adegan sebelumnya dengan selanjutnya kaya gak nyambung. Kedua, backsound kadang volumenya lebih kencang dibanding suara pemainnya. Kadang terpaksa harus diulang. Setelah sekali nonton, tularin tuh ke orang-orang, promo sana sini. Dan efek dari promo itu aku nonton Gie entah udah berapa puluh kali, sampe gak bisa diitung. Padahal aku paling gak suka nonton atau baca sesuatu yang sama dan diulang. Tapi, khusus untuk film ini, gak bakal bosen nontonnya. Dengan sedikit kesalahan-kesalahan itu over all filmnya bagus, adegan cinta-cintaannya sedikit. Hahaaha iya sedikit alhamdulillah ya walaupun ada adegan panasnya, itukan cerita Gie dan perjuangannya jadi aktivis, bukan ngejar cintanya. Lihat nih hasil kerja aku ‘Kesimpulan Film Soe Hok Gie’. Walaupun pada hari pengumpulan tugas ini aku jadi orang pelit sehari. Gimana gak mau pelit, orang aku yang punya kerjaan ngedit tugas anak kelas yang mau dibuat buku aja masih bisa ngerjain Kesimpulan ini, ngerjain ini sampe larut malem. Nah mereka yang nganggur malah maunya nyontek. Ogah banget aku! Bayangin aja ngedit 200 Halaman lebih, di waktu empat hari sendirian dengan tugas matakuliah lain yang juga sama numpuknya. Miris banget keadaan aku empat hari itu. Ya udah pas nyampe kelas ada yang minta, aku tetep keukeuh gak mau ngasih tau, gak mau ngasih flash disk, gak mau ngasih kertas. Ini hasil kesimpulan aku, maaf kata-katanya berantakan, kalimatnya juga. Pokoknya ini tugas yang aku buat paling gak jelas. Tapi alhamdulillah langsung dapet tanda tangan. Yeay kesimpulan selesai juga akhirnya... Padahal tugas ini dikumpulin tanggal 15 Juni nanti, tapi hasilnya aku tempelin di sini saja. Senin, 8 Juni 2015 Libur karena gedung digunakan untuk SBMPTN  hahahaa libur, tapi hari itu aku tetap ke kampus, ngapain lagi kalo gak ke Perpustakaan Utama, nyari bahan buat tugas. Hari senin itu perpus adem banget, yang dateng juga dikit jadi gak rame. Di parkiran kampus juga gak semrawut kaya biasanya. Karena, hari itu masih persiapan SBMPTN paling orang-orang cuma cek ruangan, dan mahasiswa yang dateng ke kampus juga dikit. Seneng banget liatnya, swear! Coba tiap hat\ri gitu.  Senin, 15 Juni 2015 Masyarakat Madani dan Pengumpulan Tugas Kesimpulan Film ‘Soe Hok Gie’ Waaah gak terasa udah masuk bab terakhir aja, artinya ini makalah terakhir dan bye bye sama small group discussion. Bye bye sama matakuliah yang membebaskan kita mengeluarkan pendapat. Karena ini Kewarganegaraan jadi gak terlalu saklek(?) sama buku-buku, menurut pandangan kita aja, terbuka untuk semua pandangan teman-teman yang satu kelompok. Oke oke ini yang aku dapet setelah membahas seputar Masyarakat Madani, sebenarnya materi ini udah aku dapet waktu SMA. Dulu Guru PKn aku kalo ngomong ‘Masyarakat Madeni’ bukan ‘Masyarakat Madani’ ––(re: Madeni adalah Bahasa Jawa, berarti Menyebalkan). Hahahaa Guru aku emang parah, suka meleset-melesetin gitu. Masyarakat Madani adalah Masyarakat yang pola pikirnya sudah maju, mereka sudah mandiri, pola pikirnya pun sudah gak tradisional banget. Kalo dari bukunya pak Abuddin Nata, Masyarakat Madani bisa di sebut Masyarakat Informasi (Informatical Society). Mereka mungkin sudah gak terlalu saklek, berorientasi sama kegiatan sesembahan nenek moyang yang turun temurun. Mereka menghargai dan menghormati perbedaan, tidak adanya monopoli oleh golongan tertentu, adanya perbedaan, adanya ruang publik yang bebas, dan yang utama adalah adanya demokrasi. Gimana mau bebas kalo gak ada demokrasi kan? Eee tunggu dulu, kalo gak salah Indonesia nganut sistem demokrasi, politik luar negeri Indonesia bersifat bebas aktif. Heh tapiiii? Tau ahh, miris banget memang Indonesia hampir 70 tahun merdeka, harusnya bukan negara yang masih belajar. Tapi kok demokrasi di Indonesia kaya masih proses belajar. Harusnya kan malah udah hafal. Gampang banget kita di bodohin, bahkan yang ngebodohin dan yang menodai demokrasi itu sendiri dari kalangan pejabat. Contohnya saja, pertama Pemilu dan money politic. Dia kan sifatnya luber jurdil, tapi dari dulu gak ada tuh, menurut aku cuma sebagian masyarakat yang bisa ngejalanin itu. Menurut aku demokrasi kita, hanya nama. Demokrasi cuma buat packaging kebobrokan Pemerintah (Maaf, tapi ini pendapat aku), demokrasi cuma cover. Kedua, keadaan partai politik kita belum sehat. Padahal partai politik wadah dan tempat pembentukan masyarakat madani yang paling efektif. Ketiga, ada yang salah dengan sistem pendidikan kita sehingga kesadaran akan pandangan berbangsa dan bernegara masih minim banget. Pertanyaannya sekarang, kapan masyarakat Indonesia bisa menjadi masyarakat Madani? Kapan ya? Kalo masyarakatnya sudah siap. Bukan bukan masyarakat, tapi kalo pemerintahnya udah siap. Semua berawal dari mereka yang membuat kebijakan. Dan setelah mereka sadar akan potensi SDM masyarakat kita, bukan minta barang jadi, tapi mau mengasahnya sendiri. Sedih. Banyak generasi muda kita yang pinter malah dicampakkin gitu aja. Orang pinter di Indonesia itu jadi musuh bagi mereka. Mereka siapa? Gak tau, tebak ayo merekanya sama siapa? Wkwkwkkkk. Di bagian akhir ini, aku hanya pengen ngomong, ada yang sesuatu yang salah dengan demokrasi, pendidikan, paradigma kita dari awal. Bahkan, dari awal Indonesia merdeka, maybe. Gak heran jika sistem demokrasi dan keadaan kita sekarang carut marut seperti ini. Bahkan bukan hanya demokrasi yang keliru, yang salah, yang kurang sesuai. Namun, sistem pendidikan kita dalam mengasah sumber daya manusia untuk masa depan itu banyak kekeliruannya. Semoga ke depannya Indonesia bisa jadi lebih baik di segala aspek. Semoga ada manusia yang sadar akan ini semua, bukan manusia yang sadar akan kepentingan mereka sendiri alias egois. Amiiiin.... Indonesia bisa jadi negara maju, bisa mandiri juga. Aminnn... Pokoknya di matakuliah Civic Education ini aku seneng, seneng banget malah. Dapet pengalaman baru. Terimakasih buat pak Study Rizal sama Pak Muchlas. Pasti selama perjalanan dari Maret sampai hari ini bapak baca Diary aku, aku dan kelas aku ––MD 2 B banyak ngelakuin kesalahan dan kekeliruan. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Semoga bapak maafin. Oh iya di diary ini juga pasti ada kata-kata yang kurang berkenan, kekeliruan di sana sini, mengandung SARA maybe, saya minta maaf. Manusia memang tempatnya salah. Terimakasih banyak sudah ngasih kita pengalaman baru yang belum pernah kita rasain. Terimakasih banyak sebanyak-banyaknya buat Ilmu yang sudah dibagi sama kita. Do’akan kami cepet lulus. ‘Heh? Baru semester 2 ini’. Do’akan nilai kami di semester 2 ini bagus-bagus, dan bisa mengaplikasikan apa yang kita dapat sekarang di kehidupan sesungguhnya. Jadi gak cuma teori tapi kita juga bisa praktek. Do’akan kita bisa menjadi generasi muda yang bermanfaat buat bangsa dan agama. Menjadi sumber daya manusia yang memberikan banyak nilai positif dan berkontribusi banyak untuk kemajuan negara kita tercinta Indonesia. Semoga kita juga semakin bangga akan Indonesia, di tengah banyaknya kekurangan. Semoga nantinya diantara kita bisa menjadi pelaku demokrasi yang sesuai prosedur sistem demokrasi. Intinya aminin do’a kita yang baik baik dan semoga civic education ke depannya lebih baik, dan bisa menjadi langkah awal lahirnya para pejuang demokrasi yang berasas, serta menjadi pengawal dan pengontrol demokrasi itu sendiri. Diantara semoga semoga itu pokoknya Civic Education the best. #bighug eee Senin, 22 Juni 2015 Hari ini libur, mungkin kaya minggu tenang gitu. Padahal udah gak sabar buat UAS. Bukan gak sabar buat UAS, tapi gak sabar nunggunya, karena matakuliah lain udah UAS semua. Males harus bolak balik ke kampus. Terus tiap ke kampus paling Cuma satu matakuliah yang UAS, kan gak jelas banget. Memang sih enak dapet uang saku, ketemu temen juga. Tapi ya cuapek... Sampai ketemu di UAS Civic Education tanggal 29 Juni nanti Pak Study Rizal, Pak Muchlas dan teman-teman yang super ajaib dan aneh. Semoga bisa ketemu dalam keadaan sehat, dan setiap langkah kita diridhai oleh Allah. Bagian akhir dari ini Cuma mau ngucapin Terimakasih شكرًكثير Danke Thank You Buat satu semester ini yang berbeda, yang insya Allah nantinya ilmu yang di dapat selama perjalanan dari matakuliah Civic Education ini bisa nerangin demokrasi di Indonesia dari salah satu kami. Semoga kita tidak hanya jadi seonggok daging yang punya nama tanpa memberi manfaat. Namun, kita banyak memberikan kontribusi positif yang membawa lampu penerang bagi Indonesia. Senin, 29 Juni 2015 IT’S TIME TO FINAL EXAMINATION! Good Luck buat semuanya. I hope Allah always bless us. Semoga mata kuliah ini kita bisa lulus semua.